Doktor Anti Liberal. Julukan itu rasanya layak diterima oleh Dr. Sutrisno Muslimin M,Si setelah ia berhasil mempertahankan Disertasinya di hadapan dewan sidang pada ujian promosi Doktor Pendidikan Islam, Program Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun, Minggu malam, 29 September 2013 lalu.

Dewan sidang malam itu terdiri dari Dr. Ending Bahruddin M.Ag (Pimpinan Sidang), Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin MS (Promotor), Dr. H. Ibdalsyah M.A (Promotor), H. Adian Husaini M.Si, Ph.D (Promotor), Prof. Dr. Nanang Fattah M.Pd (Penguji I), dan Prof Dr. Sufyan Sauri M.Pd (Penguji II). Di hadapan dewan sidang tersebut, Sutrisno menyampaikan, bahwa dari penelitiannya selama beberapa tahun di UNJ, ia sampai pada kesimpulan bahwa wacana Islam Liberal yang diajarkan para dosen PAI yang berpaham liberal, memiliki pengaruh negatif yang kuat terhadap sikap keagamaan mahasiswa sebesar 65%. Bahkan menurutnya, dosen yang liberal merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap sikap keagamaan mahasiswa, disamping faktor lain, seperti sosio kultural, buku-buku referensi dan sebagainya.

Sutrisno menyatakan, ia sengaja memilih tema Islam Liberal pada Disertasinya itu, agar umat Islam sadar akan bahaya pemikiran dan ide-ide yang disampaikan oleh pengusung dan pengasong Islam Liberal. Dan ia sengaja memilih UNJ sebagai kampus yang ditelitinya, karena UNJ adalah kampus pencetak para guru yang akan mengajar di sekolah-sekolah. Menurutnya, jika ketika kuliah mereka sudah dijejali paham liberal, otomatis ketika menjadi guru, mereka pun akan menyebarkan paham liberal kepada murid-muridnya di sekolah. Terakhir, menurut Sutrisno, kasus yang terjadi di UNJ ini tidak hanya untuk berlaku di UNJ, tapi bisa juga terjadi di kampus lain, jika para dosen yang mengajar Pendidikan Agama Islam berpaham liberal dan gigih menyebarkan pemahamannya yang liberal kepada para mahasiswanya.

Disertasi Sutrisno yang berjudul Wacana Islam Liberal dalam Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum (Studi Kritis Analisis di UNJ) mendapat apresiasi tinggi dari dewan sidang dan juga para hadirin. Banyak temuan penting yang perlu diketahui oleh masyarakat luas tentang derasnya arus liberalisme di negeri ini, khususnya di dunia pendidikan. Tidak salah dan tidak berlebihan jika kemudian Sutrisno Muslimin dinyatakan lulus dengan predikat Cum Laude (Dengan Pujian) dan berhak menyandang gelar Doktor Pendidikan Islam dengan segala hak dan kewajiban yang melekat padanya.

Lulusnya Sutrisno Muslimin sebagai Doktor Pendidikan Islam yang ke-48 dari UIKA, menjadi bukti keseriusan UIKA dalam melahirkan ilmuwan sekaligus pendidik yang beradab dan senantiasa teguh memegang ajaran dan nilai-nilai Islam.